Perlunya Pendidikan Seks Pada Anak Sejak Usia Dini

”Anak laki-laki saya berusia 13 tahun. Ia mulai tertarik pada lawan jenisnya, dan kebetulan anak perempuan yang disukainya adalah putri sahabat saya. Saya mengerti bahwa ketertarikan itu wajar tapi tetap saja saya merasa tidak yakin apa yang harus saya lakukan menghadapi fase ini. Bagaimana saya harus menghadapinya?” tanya Ny. Dewi, salah satu orangtua murid dalam bincang-bincang tentang pendidikan seks pada usia dini yang dilangsungkan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 02 Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/8) siang.
Dalam acara yang sama, salah satu orangtua murid lainnya mempertanyakan pertumbuhan alat genital anaknya yang terlihat kurang normal. ”Anak saya usia 11 tahun, tingginya 165 sentimeter dan beratnya 85 kilogram. Mungkin karena gemuk, penisnya kok kayaknya kurang normal. Sebenarnya pada usia sekian berapa ukuran penis yang normal?” tanya ibu itu.
Pertanyaan-pertayaan yang terlontar dari para orangtua murid itu menggambarkan salah satu alasan mengapa pendidikan seks bagi anak seringkali terlewatkan oleh orangtua. Selain masih dianggap sebagai hal yang tabu dibicarakan, banyak orangtua juga tidak memberikan pendidikan seks pada anak-anak sejak usia dini karena tidak mengerti apa yang harus disampaikan.
Dr. Boyke Dian Nugraha, seksolog yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut mengatakan, pendidikan tentang seks sebenarnya perlu diberikan orang tua pada anak sejak usia dini agar anak bisa lebih memahami keunikan dirinya. Dengan demikian, anak akan lebih percaya diri, mampu menerima keunikan dirinya sekaligus tahu bagaimana menjaga dirinya sendiri. Dr. Boyke mencontohkan, baru-baru saja ia diminta melakukan operasi untuk mengembalikan keutuhan selaput dara seorang anak kelas IV SD asal Indramayu, yang tanpa sengaja melakukan hubungan seksual dengan teman sekelasnya karena mencontoh adegan film porno.
”Anak itu sendiri juga tidak mengerti apa yang dilakukannya. Karena itu, pengenalan aspek seksual sejak dini sebenarnya diperlukan. Jangan berpikir bahwa anak Anda kelak akan memahami seks dengan sendirinya atau bahwa anak Anda tidak perlu tahu seks karena ia rajin beribadah. Pengenalan aspek seksual juga membuat si anak menjadi lebih percaya diri jika dewasa kelak karena ia lebih mengenal dan bisa menerima keunikan dirinya,” katanya.

Empat Tahap
Secara garis besar, Boyke membagi pendidikan seks bagi anak berdasarkan usia ke dalam empat tahap yakni usia 1 – 4 tahun, usia 5-7 tahun, 8-10 tahun dan usia 10-12 tahun.

1. Pada usia 1 sampai 4 tahun.

Paparnya, orangtua disarankan mulai memperkenalkan anatomi tubuh, termasuk alat genital. Perlu juga ditekankan pada anak bahwa setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang unik, dan berbeda satu sama lain. ”Kenalkan, ini mata, ini kaki, ini vagina. Itu tidak apa-apa. Terangkan bahwa anak laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan berbeda, masing-masing dengan keunikannya sendiri,” ujarnya.

2. Sedangkan pada usia 5 – 7 tahun.

Menurut Boyke, rasa ingin tahu anak tentang aspek seksual biasanya meningkat. Mereka akan menanyakan kenapa temannya memiliki organ-organ yang berbeda dengan dirinya sendiri. Rasa ingin tahu itu merupakan hal yang wajar. Karena itu, orang tua diharapkan bersikap sabar dan komunikatif, menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui anak. ”Kalau anak laki-laki mengintip temannya perempuan yang sedang buang air, itu mungkin karena ia ingin tahu. Jangan hanya ditegur lalu ditinggalkan tanpa penjelasan. Terangkan, bedanya anak laki-laki dan perempuan. Orangtua harus dengan sabar memberikan penjelasan pada anak,” ujar Boyke.

3. Selanjutnya, pada usia 8 – 10 tahun.

Anak sudah mampu membedakan dan mengenali hubungan sebab akibat. Pada fase ini, orangtua sudah bisa menerangkan secara sederhana proses reproduksi, misalnya tentang sel telur dan sperma yang jika bertemu akan membentuk bayi.

4. Pada usia 11-13 tahun

Anak sudah mulai memasuki pubertas. Ia mulai mengalami perubahan fisik, dan mulai tertarik pada lawan jenisnya. Ia juga sedang giat mengeksplorasi diri. Anak perempuan, misalnya, akan mulai mencoba-coba alat make up ibunya. Pada tahap inilah, menurut Boyke, peran orangtua amat sangat penting. Orangtua harus menerima perubahan diri anaknya sebagai bagian yang wajar dari pertumbuhan seorang anak-anak menuju tahap dewasa, dan tidak memandangnya sebagai ketidakpantasan atau hal yang perlu disangkal.
Di sisi lain, lanjut Boyke, orangtua harus berusaha melakukan pengawasan lebih ketat, dengan cara menjaga komunikasi dengan anak tetap berjalan lancar. Kalau anak merasa yakin dan percaya ia bisa menceritakan apa saja kepada orang tuanya, orang tua akan bisa mengawasi si anak dengan lebih baik,” ujarnya.
Boyke juga menekankan pentingnya proses pembentukan identitas diri pada anak selama tahap pubertas ini. Karena itu, ia menyarankan anak perempuan memiliki hubungan lebih dekat dengan ibu, dan sebaliknya. Hal itu mempermudah anak membentuk identitas dirinya sendiri sebagai individu dewasa.
”Kalau anak perempuan jauh lebih dekat dengan ayahnya, dan kurang akrab dengan ibunya, ia bisa saja mencari sosok ayah jika ia mencari pasangan hidup kelak, tidak suka teman seusianya,” tambahnya.

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/29/nas03.html

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Propeller
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • BlinkList
  • Blogosphere News
  • email
  • Faves
  • FriendFeed
  • Live
  • MisterWong
  • MisterWong.DE
  • Mixx
  • MSN Reporter
  • MySpace
  • Netvibes
  • NewsVine
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • Twitter
  • Twitthis
  • Wikio
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz

Related Posts

, , , ,

  1. #1 by Ibnu Ma'mun on February 16th, 2009

    Hmm…
    Menurut sy…memberikan pendidikan seks sejak dini terhadap anak harus jelas konsepnya…
    Model Sekuler sprti org2 Barat-kah?

    Ibarat “Menuang Bensin ke Bara Api”,
    Bukan kebaikan yg akan dipetik,
    Justru orientasi urusan “Selangkangan” yg akan di otak-atik otak si anak yg masih polos, lugu, bersih lg baik itu.

    Coba tengok Org tua d Amerika yg memberikan pendidikan seks sejak dini kpd anak2y,
    Adakah kebaikan yg akhirnya bisa mereka petik ???
    Apakah Anak2 mereka mnjd steril dari perilaku seks bebas ???

    Solusi terbaik adalah kuatkan pendidikan agama Si anak (Islam) ^_^

    Karena dari situ mereka akan mengetahui
    Bahwa Tuhannya Maha Melihat lg Maha Mengetahui…
    Bahwa aktifitas Seks yg tidak Halal adalah berdosa
    Bahwa sesungguhnya setiap mereka adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dan akan dimintai pertanggungjawabanya kelak

    Dengan demikian…
    -Terciptalah Filter-Filter alamiah (akidah,ahlak,moral) dlm diri si Anak Yg efeknya lbh ampuh daripada hasil blokade situs2 porno maupun UU antipornografi-pornoaksi
    -Terbentuklah MindSet-Mindset yg jauh dr orientasi aktifitas2 Seks yg amoral, tdk benar dan tdk halal

    Karena, “Dunia ini tak selebar Selangkangan” saja… ^_^

    Wallahu A’lam bi Showab

  2. #2 by zigun on February 16th, 2009

    Saya sangat setuju sekali dengan pendapat mas Ibnu! Memang untuk anak-anak, sebaiknya pendidikan agama dan imanlah yang harus terlebih dahulu diutamakan, karena iman merupakan pondasi utama yang harus ada.

    Terimakasih mas Ibnu atas masukannya!

(will not be published)
  1. No trackbacks yet.